resume pengantar sosiologi

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Sebagai manusia dan sebagai individu yang pasti menjalani kehidupan bersama dalam masyarakat, kita sebagai orang yang terpelajar wajib memahami ilmu tentang masyarakat, agar kita bisa tehindar dari masalah-masalah social dalam masyarakat.

Penulis menyelesaikan resume ini karena penulis sendiri sadar bahwa pengetahuan tentang ilmu masyarakat dikalangan remaja masih sangat kurang. Masih banyak yang belum memahami apa itu masyarakat dan tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam pengembangan ilmu kemasyarakatan.

Semoga resume ini dapat berguna dan menambah wawasan kita tentang ilmu kemasyarakatan.

BAB II

PEMBAHASAN

Pada abad ke-19,seorang ahli filsafat bangsa prancis bernama Aguste comte menulis beberapa buah buku yang berisikan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Filsafat sendiri adalah ilmu tentang ilmu pengetahuan, kritik dan sistematika pengetahuan, penyimpulan ilmu pengetahuan empiris, pengajaran rasional, akal pengalaman, yang mencakup ontologi, deontology, epistemology, aksiologi.  Ontology adalah cabang filsafat tentang sifat kenyataan riil, dan deontology adalah sifat kenyataan idiil. Epistemology merupakan dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan, aksiology adalah evaluasi atau penilaian dasar-dasar dan kenyataan.

Aguste comte menyarankan agar semua penilitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi satu ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Nama yang diberikannya adalah sosiologi yang berasal dari kata latin socius yang artinya kawan dan kata logos yang artinya kata atau berbicara. Jadi sosiologi berarti “berbicara mengenai masyarakat”.

  1. Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi

Logika adalah sarana-sarana untuk memelihara dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Sedangkan sarana-sarana untuk memelihara serta meningkatkan pola perilaku dan mutu kesenian disebut etika dan estetika.

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang slalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya.

Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu. Hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan ilmu pengetahuan. System di dalam ilmu pengetahuan harus bersifat dinamis, artinya system tersebut harus menggunakan cara-cara yang selalu disesuaikan dengan taraf perkembangan ilmu pengetahuan pada suatu saat. Penelitian merupakan alat utama yang dipergunakan manusia untuk memperkuat, membina, serta mengembangkan ilmu pengetahuan.

  1. Ilmu-ilmu Sosial dan Sosiologi

Ilmu-ilmu social dinamakan demikian karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. Objek dari ilmu-ilmu social adalah masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah.

Istilah social pada ilmu-ilmu mempunyai arti yang berbeda. Misalnya istilah social dalam sosialisme dengan social dalam departemen. Istilah social dalam sosialsme menunjuk pada objeknya, sedangkan social dalam depatemen social menunjuk pada kegiatan-kegiatan di lapangan social.

Sosiologi mempelajari masyarakat dalam keseluruhannya dan hubungan-hubungan antara orang-orang dalam masyarakat tersebut.

Sosiologi memperhatikan masa-masa silam, tetapi dia hanya memperhatikan peristiwa-peristiwa yang merupakan proses-proses kemasyarakatan yang timbul dari hubungan antarmanusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

  1. Definisi Sosiologi dan Sifat Hakikatnya

Beberapa definisi sosiologi menurut para tokoh :

  1. Pitirim Sorokin, mengatakan bahwa sisiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
    1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social.
    2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala social dengan gejala-gejala nonsosial.
    3. Cirri-ciri umum semua jenis gejala-gejala social.
  2. Roucek dan Warren mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
  3. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi social dan hasilnya yaitu organisasi social.
  4. J.A.A van Doorn dan C.J Lammers berpendat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
  5. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur social dan proses-proses social, termasuk perubahan-perubahan social.

Sifat-sifat dan hakikat sosiologi :

  1. Sosiologi merupakan suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian,
  2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yanag normative, tetapi merupakan suatu dislipin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau sharusnya terjadi.
  3. Sisiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai.
  4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkret.
  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.
  6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.
  7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.
  8. Objek Sosiologi

Objek sosiologi adalah masyarskat yang dilihat dari sudut hubungan antarmaanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia didalam masyarakat.

Unsur-unsur masyarakat :

  1. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama.
  2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama.
  3. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
  4. Mereka merupakan suatu system hidup bersama.

Semenjak dilahirkan manusia sudah mempunyai naluri yang kuat untuk hidup berkawan sehingga dia disebut social animal.pada hubungan antara manusia dengan sesamanya, agaknya yang penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat adanya hubungan tadi.

Komponen-komponen masyarakat :

  1. Populasi, yakni warga-warga masyarakat yang dilihat dari sudut pandangan kolektif.
  2. Kebudayaan, yakni hasil karya, cipta, dan rasa dari kehidupan bersama.
  3. Hasil-hasil kebudayaan materiil.
  4. Organisasi social, yakni jaringan hubungan antara warga-warga masyarakat yang bersangkutan.
  5. Lembaga-lembaga social dan sistemnya.

Istilah rakyat menunjuk pada sejumlah besar penduduk, yang mempunyai kehendak umum bersama, dihadapkan pada pemerintah yang mengatur dan memerintah kehendak tadi

  1. Sejarah-sejarah Teori-teori Sosiologi
    1. Teori

Teori merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Suatu merupakan hubungan antara dua variable atau lebih, yang telah diuji kebenaranya.

  1. Perhatian terhadap masyarakat sebelum comte

Masa aguste comte dipakai sebagai patokan karena sebagaimana dinyatakan bahwa comte yang pertama kali memakai istilah atau pengertian sosiologi. Sosiologi dapat dikatakan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang relative muda usianya karena baru mengalami perkembangan sejak masa comte tersebut.

  1. Plato (429-347 SM) seorang filusuf romawi, menyatakan bahwa masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dari manusia perorangan. Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan.
  2. Aristoteles (384-322 SM), dalam bukunya politics, Aristoteles mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakannya dalam arti luas mencakup juga berbagai masalah ekonomi dan social. Aristoteles menggaris bawahi kenyataan bahwa basis masyarakat adalah moral (etika dalam arti yang sempit).
  3. Ibnu Khaldun (1332-1406),mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian social dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Prinsip-prinsip yang sama akan dapat dijumpai bila ingin mengadakan analisis terhadap timbul dan tenggelamnya Negara-negara. Gejala-gejala yang sama akan terlihat pada kehidupan masyarakat-masyarakat pengembara dengan segala kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Factor yang menyebabkan bersatunya manusia didalam suku-suku klan, Negara, dan sebagainya adalah rasa solidaritas. Factor itulah yang menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan bersama antara manusia.
  4. Zaman Renaissance (1200-1600), seperti Thomas More dengan utopianya dan campanella yang menulis city of the sun. mereka masih sangat terpengaruh olej gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat yang ideal. N. Machiavelli dengan bukunya II principle yang menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan. Pengaruh ajaran Machiavelli antara lain suatu ajaran bahwa teori-teori politik dan social memusatkan perhatian mekanisme pemerintahan.
  5. Hoobes (1588-1679), dengan bukunya yang berjudul The Leviathan. Dia beranggapan bahwa dalam alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis sehingga manusia sering berkelahi. Akan tetapi, mereka mempunyai pikiran bahwa hidup damai dan tentram adalah jauh lebih baik. Supaya keadaan damai terpelihara, orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak mempunyai wewenang.
  6. John locke (1632-1704), mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda.
  7. J.J Rousseau (1712-1778), berpendapat bahwa bahwa kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah menyebabkan tumbuhnya suatu kolektifitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum.
  8. Saint Simon (1760-1825),menyatakan bahwa manusia hendaknya diplajari dalam kehidupan berkelompok. Dalam bukunya yang berjudul Memoirs sur la de l`Home, dia menyatakan bahwa ilmu politik maerupakan suatu ilmu yang positif.
  9. Sosiologi Aguste Comte (1798-1853)

Aguste Comte adalah yang pertama kali memakai istilah sosiologi, dia juga orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap pertama dinamakan tahap teologis atau fiktif, yaitu suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan roh dewa-dewa atau Tuhan Yang Masa Kuasa. Tahap kedua merupakan perkambangan dari tahap adalah tahap metafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan  atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terikat pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam. Hal yang terakhir inilah yang merupakan tugas ilmu pengetahuan positif, yang merupakan tahap ketiga atau tahap terakhir dari perkembangan manusia.

Menurut Comte, suatu ilmu pengetahuan bersifat positif, apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongkret, tanpa ada halangan dari pertimbangan-pertimbangan lainnya. Comte yakin bahwa nasyarakat akan berkembang menuju suatu kesempurnaan.

  1. Teori-teori sosiologi setelah Comte
    1. Mazhab Geografi dan Lingkungan

Jarang sekali para ahli pemikir menguraikan masyarakat manusia terlepas dari tanah atau lingkungn di mana masyarakat tadi berada. Masyarakat hanya mungkin timbul dan berkembang apabila ada tempat berpijak dan tempat hidup bagi masyarakat tersebut.

Edward Buckle dari Inggris (1821-1862) dan Le Play dari Prancis (1806-1888) dengan hasil karyanya yang berjudul history of civilization in England (yang tidaak selesai), Buckle meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya tentang pengaruh keadaan alam terhadap masyarakat.

Factor-faktor yang mempengaruhi kehidupan social telah disusun secara logis dan sistematis. Bertitik tolak pada asumsi bahwa tipe orgnisasi social ditentukan oleh factor tempat, timbul teori bahwa keluarga-keluarga patrilineal timbul di daerah-daerah stepa. Keluaraga-keluarga demikian sifatnya otoriter, tidak demokratis dan konservatif .

Pentingnya mahzab ini adalah bahwa ajaran-ajaran atau teori-teori menghubungkan factor keadaan alam dengan factor-faktor struktur serta organisasi social.

  1. Mazhab Organis dan Evolusioner

Herbert Spencer (1820-1903), adalah orang pertama yang menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang kongkret. Dalam bukunya yang berjudul principle of sociology dia berpendapat bahwa pada masyarakat industry yang telah terdiferensiasi dengan mantap, aka nada suatu stabilitas yang menuju pada keadaan hidup yang damai.

Emile Durkheim (1855-1917), dalam karyanya yang berjudul division of labor, Durkheim menyatakan bahwa unsur baku dalam masyarakat adalah factor solidaritas.

Ferdinand Tonnies dari jerman (1855-1936), berpendapat bahwa dasar hubungan tkehidupan social di satu pihak adalah factor perasaan, simpati pribadi, dan kepentingan bersama.

  1. Mazhab Formal

Georg Simmel (1858-1918), berpendapat bahwa elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk ynang mengatur hubungan antara elemen-elemen tersebut. Bentuk-bentuk tadi sebenarnya adalah elemen-elemen itu sendiri. Menurut dia pelbagai lembaga di dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi, dan konflik. Seorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi.

Leopold von Wiese (1876-1961), berpendapat bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antarmanusia tanpa mengaitkannya dengan tujuan-tujuan maupun kaidah-kaidah.

Alfred Vierkandt (1867-1953), menyatakan bahwa sosiologi menyoroti situasi-situasi mental. Situasi-situasi tersebut tak dapat dianalisis secara tersendiri, tetapi merupakan hasil perilaku yang timbul sebagai akibat interaksi antarindividu dan kelompok dalam masyarakat.

  1. Mazhab Psikologi

Gabriel Tarde (1843-1904), mempunyai pandangan awal bahwa gejala social mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, di mana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan.

Horton Cooley (1846-1924), menurutnya individu dan msyarakat salling melengkapi, di mana individu hanya akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat.

  1. Mazhab Ekonomi

Karl Marx (1818-1883) telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan ang menunjukkan perkemmbangan masyarakat menuju suatu keadaan di mana ada keadilan social. Menurut Marx, selama masyarakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan tehimpun segala kekuatan dan kekayaan.

Max Weber (1864-1920) menyatakan bahwa semua bentuk organisasi social harus diteliti menurut perilaku warganya, yang motivasinya serasi dengan harapan warga-warga lainnya.

  1. Mazhab Hukum

Hukum menurut Durkheim adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat-ringannya  tergantung pada sifat pelanggaran, angapan-anggapan, serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tindakan. Selanjutnya Durkheim berpendapat bahwa dengan meningkatnya diferensiasi dalam masyarakat, reaksi kolektif yang kuat terhadap penyimpangan-penyimpangan menjadi berkurang di dalam system yang bersangkutan karena hokum yang bersifat reprsif mempunyai kecenderungan untuk berubah menjadi hokum yang restitutif.

Bagi Weber hokum yang rasional dan formal merupakan dasar bagi suatu Negara modern. Kondisi-kondisi social yang memungkinkan tercapainya taraf tersebut adalh system kapitalisme dan profesi hokum.

Menurut Lawrence M. Freidmann konsepsi budaya hokum menunjuk pada nilai-nilai yang berkaitan dengan hukum dan proses hokum.

  1. Metode-metode dalam Sosiologi

Pada dasarnya terdapat dua jenis cara kerja atau metode dalam sosiologi, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Di dalam metode kulitatif termasuk metode historis dan metode komparatif, keduanya dikombinasi menjadi historis komparatif. Metode yang termasuk jenis metode kuantitatif adalah metode statistic yang bertujuan menelaah gejala-gejala social secara matematis.

TOKOH-TOKOH YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

  1. A. Auguste Comte (1789-1857)

Auguste Comte, seorang Prancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama-tama member nama pada ilmu tersebut (socius dan logos). Dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistic dan  social dynamic. Sebagai social statistic, sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebagai social dynamic, meneropong bagaimana lembaga-lembaga itu berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Menurut Comte, masyarakat harus diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya penelitian-penelitian perbandingan antara pelbagai masyarakat yang berlainan. Hasil karya Comte yang terutama adalah :

  1. The Scientific Labors Necerssary for Reorganization of Society (1822);
  2. The Positive Philosophy (6 jilid 1830-1840);
  3. Subjective Synthesis (1820-1903).
  4. B. Herbert Spencer (1820-1903)

Dalam bukunya The Principles of Sociology (3jilid,1877), Spencer menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis. Dia mengatakan bahwa objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik,agama,pengendalian social dan industry. Dia juga menekankan bahwa sosiologi harus menyoroti hubungan timbale balik antara unsure-unsur masyarakat seprti pengaruh norma-norma atas kehidupan keluarga, hubungan antara lembaga polotik dan lembaga keagamaan. Hasil karya yang terkenal lainnya :

  1. Social Statistic (1850);
  2. Principles of Psychology (1955);
  3. Principles of Biologis (2 jilid, 1864 dan 1961)
  4. Principles of Ethics (1893)
  1. C. Emile Durkheim (1858-1917)

Menurut Emile Durkheim, sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses social. Dalam majalah sosiologi, ia mengklasifikasikan pembagian sosiologi atas tujuh seksi, yaitu:

  1. Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia.
  2. Sosiologi agama
  3. Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi social, perkawinan dan keluarga.
  4. Sosiologi tentang kejahatan
  5. Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja
  6. Demografi yang mencakup masyarakat pedesaan dan perkotaan
  7. Sosiologi estetika

Hasil karyanya yang terkemuka :

  1. The Social Division of Labor (1893)
  2. The Rules of Sociological Method (1895)
  3. The Elementary Forms of Religious (1912)
  1. D. Max Webber(1864-1920)

Max Webber, seorang Jerman, berusaha memberikan pengertian mengenai perilaku manusia dan sekaligus menelaah sebab-sebab terjadinya interaksi social. Max juga terkenal dengan teori ideal typus, yaitu merupakan suatu konstruksi dalam pikiran seorang peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis gejala-gejala dalam masyarakat. Karya yang ditulisnya antara lain :

  1. The History of Trading Companies During the Moddle Ages (disertasi,1889)
  2. Economy and Society (1920)
  3. Collected Essays on Sociology of Region (3 jilid, 1921)
  4. Collected Essays on Sociology and Social Problems (1924)
  5. From Max Webber : Essays in Sociology (1946)
  6. The Theori of Social and Economic Organization (1947)
  7. Alex Webber on The Methodology of Social Sciences (1949)
  1. E. Charles Horton Cooley (1864-1929)

Seorang Amerika, Charles Horton Cooley, mengembangkan konsepsi mengenai hubungan timbale balik dan hubungan yang tidak terpisah antara individu dengan masyarakat. Coooley dalam mengemukakan teorinya terpengaruh aliran romantic yang mengidamkan kehidupan bersama, rukun, damai, sebagaimana dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang masih bersahaja. Hasil-hasil karyanya :

  1. Human Nature and Social Order (3 jilid,1902)
  2. Social Organization (1909)
  3. Social Process (1918)
  1. F. Pierre Guillaurne Frederic Le Play (1806-1882)

Le Play mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalisis gejala-gejala social, yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta social dan analisis induktif. Kemudian ia juga menggunakan metode case study dalam penelitian-penelitian social. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga, serta lembaga-lembaga lainnya.

Karangan-karangan yang pernah di buatnya:

  1. European Worker (1855);
  2. Social Reform in France (1864)
  3. The Organization of The Family (1871)
  4. The Organization of Labor (1872)
  1. G. Ferdinand Tonnies

Ferdinand Tonnies terkenal dengan teorinya mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft sebagai dua bentuk yang menyertai perkembangan kelompok-kelompok social. Gemeinschaft (paguyuban) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat ilmiah serta bersifat kekal. Gasellschaft (patembayan) merupakan bentuk kehidupan bersama yang merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya dalam jangka waktu yang pendek. Hasil karyanya antara lain :

  1. Gemeinschaft und Gesellschaft (1887)
  2. Sociological Studies and Criticism (3 jilid, 1952)
  3. Introduction to Sociology (1937) dan lain-lain.
  1. H. Leopold von Wiese (1876-1949)

Von Wiese, seorang jerman, menganggap sosiologi sebagai ilmu pengegtahuan empiris yang berdiri sendiri. Objek sosiologi adalah penelitian terhadap hubungan antarmanusia yang merupakan kenyataan social. Jadi, menurutnya, objek khusus ilmu sosiologi adalah interaksi social atau proses social. Penelitian selanjutnya dilakukan terhadap struktur social yang merupakan saluran dari hubungan antar manusia. Hasil-hasil karyanya adalah antara lain :

  1. The Basis of Sosiologi : A critical examination of Herbert spencer’s Synthetic Philosophy (1906)
  2. General Sosiology, jilid I Social Relations (1924); dan jilid II
  3. Social Forms (1929)
  4. Systematic Sosiology (bersama dengan Howard Becker,1932)
  5. Sosiology of Social Relation (1940)
  6. I. Alfred Vierkandt (1867-1953)

Pada permulaannya Alfred menganggap sosiologi harus mempelajari sejarah kebudayaan. Kemudian, ia menyatakan bahwa sosiologi terutama mempelajari interaksi dan hasi interaksi tersebut. Masyarakat merupakan himpunan interaksi-interaksi social, sehingga sosiologi bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori tentang masyarakat dan kebudayaan. Hasil-hasil karyanya adalah :

  1. Primitive and Civilized (1896)
  2. Inertia in Culture Change (1908)
  3. Theory of Society; Main Problems of Philosophical Sociology (1922)
  4. Dictionary of Sociology (1931)
  5. Family, People and State in their Social Life (1936)
  6. J. Lester Frank Ward (1841-1913)

Ward merupakan salah satu pelopor sosiologi di Amerika. Tujuan utamanya adalah membentuk suatu system sosiologi yang akan menyempurnakan kesejahteraan umum manusia. Menurutnya sosiologi bertujuan menetili kemejuan-kemajuan manusia. Ia membedakan antara pure sociology (sosiologi murni) yang meneliti asal dan perkembangan gejala-gejala social dan applied sociology (sosiologi terapan) yang khusus mempelajari perubahan-perubahan dinamis dalam masyaraka karena usaha-usaha manusia.

Hasil karyanya adalah :

  1. Dynamic Society (1883)
  2. Psychic Factors of Civilization (1893)
  3. Pure Sociology (1903)
  1. K. Vilfredo Pareto (1848-1923)

Teori Pareto didasarkan pada observasi terhadap tindakan-tindakan, eksperimen terhadap fakta-fakta dan rumus-rumus matematis. Menurut dia, masyarakat merupakan system kekuatan yang seimbang dan keseimbangan tersebut tergantung pada cirri-ciri tingkah laku dan tindakan-tindakan manusia dan tindakan-tindakan manusia tergantung dari keinginan-keinginan serta dorongan-dorongan dari dalam dirinya. Buku yang pernah ditulisnya antara lain Treatisme on General Sociology (3 jilid,1917), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Mind and Society.

  1. L. Georg Simmel (1858-1918)

Menurut Georg Simmel, sosiologi merupakan ilmu pengtahuan khusus, yaitu satu-satunya ilmu pengetahuan analitis yang abstrak diantara semua ilmu pengetahuan kemasyarakatan. Masyarakat merupakan suatu proses yang berjalan dan berkembang terus. Masyarakat ada dimana individu mengadakan interaksi dengan indiviu-individu lainnya. hasil katya-karyanya adalah :

  1. Concering Social Differentiation (1890)
  2. Sociology, Studies of  the Forms of Socialization (1908)
  3. Basic Problems of Sociology (1917)
  4. Conflic of Modern Culture (1918)
  1. M. William Graham Summer (1840-1910)

Sistem sosiologi Summer didasarkan pada konsep in-group dan out-group. Masyarakat merupakan peleburan dari kelompok-kelompok social. Kebiasaan dan tata kelakuan merupakan petunjuk-petunjuk bagaimana harus memperlakukan warga-warga sekelompok, maupun warga-warga dari kelompok lainnya. hasil karyanya misalnya :

  1. Collected Essays on Political and Science (1885)
  2. What Social Classes Owe to Folksway (1907)
  3. Selected Essays of WilliamGraham Summer (1924)
  4. The Science of Sociology (dengan A.C Keller, 1927)
  5. Essays of William Graham Summer (2 jilid, 1934)

  1. N. Robert Ezra Park (1864-1944)

Pokok ajaran Robert Ezra Park adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa sosiologi meneliti masyarakat setempat dari sudut hubungan antarmanusia. Namanya terkenal karena telah mengarang sebuah buku (bersama Burgess) yang berjudul : Introduction to The Science of Sociology tahun 1921. Hasil karya lainnya :

  1. Race and Culture (1950)
  2. Old World Traits Transplanted (bersama H.A Miller, 1921)
  3. O. Karl Mannheim (1893-1947)

Mannheim telah banyak menyumbangkan pikirannya bagi perkembangan sosiologi. Antara lain di peloporinya satu cabang sosiologi, yang dinamakan sosiologi pengetahuan, yang khusus menelaah hubungan antara masyarakat dengan pengetahuan. Kemudian teorinya yang sangat terkenal adalah mengenai krisis. Hasil-hasil karya dari Karl Mannheim yang terkenal antaralain :

  1. Ideology and Utopia (1929)
  2. Man and Society in an Age of Reconstruction (1940)
  3. Diagnosis of our Time (1943).

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Ilmu kemasyarakatan atau yang sekarang disubut dengan sosiologi  sebenarnya sudah berkembang sejak sebelum masehi, yaitu sejak seorang filusuf barat bernama plato (429-347SM) mulai menelaah me\syarakat secara sistematis.

Nama sosiologi pertama kali dipakai sejak era Auguste Conmte (1798-1853), dan dialah yang memberikan nama sosiologi tersebut.

Sosiologi berkembang sangat pesat setelah era comte, banyak sekali tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam perkembangan ilmu sosiologi. Tetapi yang paling menonjol karena teori-teorinya sering dipake adalah seperti Ibnu Khaldun, Max Weber, Karl Marx, Auguste Comte, dan Emile Durkheim. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.